Yeni Liana, Orang Tua Pasien Leukemia: “Program JKN-KIS Memberi Harapan Kesembuhan”

Penulis : Humas Dibaca : 365 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 04 Dec 2017 06:03:58
Setiap tahunnya, diperkirakan ada 4.100 kasus baru kanker anak di Indonesia. Faiz Muhammad Aufa (9 tahun) asal Pontianak merupakan satu dari sekian banyak anak Indonesia yang tengah mengalaminya. Sudah hampir lima tahun putra pasangan Agus Auriandi dan Yenni Liana ini hidup bersama sel-sel kanker. Tidak sampai di situ, penderitaannya pun semakin bertambah karena adanya penumpukan cairan di dalam otak. Lahirnya program JKN-KIS memberi harapan baru bagi Faiz, juga ribuan anak-anak penderita kanker lainnya. Dengan adanya kepastian jaminan pelayanan kesehatan, Faiz bisa mendapatkan pengobatan yang terbaik untuk kesembuhannya di Rumah Sakit Kanker Dharmais. 

Seperti jenis kanker lainnya, kanker darah atau Leukemia yang menyerang Faiz awalnya tidak menimbulkan gejala apapun. Penyakit ini baru diketahui ketika Faiz mulai mengeluh sakit di bagian kaki sepulang sekkolah di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Ada sedikit lebam di kakinya, yang dikira Yenni akibat terjatuh saat bermain.

Karena tak menaruh curiga apapun, Yenni santai saja mendengar keluhan anaknya itu. Pikirnya, nanti juga sakitnya akan hilang setelah beristirahat. Tapi nyatanya kondisi Faiz yang ketika itu masih berumur 4 tahun 9 bulan semakin memburuk. Untuk ke kamar mandi saja, Faiz tak lagi sanggup berjalan.

Yenni pun akhirnya membawa Faiz ke klinik dekat rumahnya di Pontianak. Dari pemeriksaan awal, dokter menduga Faiz terkena virus di kaki. Jadi hanya diberi beberapa obat saja untuk membunuh virus tersebut. Namun dari hari ke hari, rasa nyeri di kaki Faiz tak kunjung membaik. Wajahnya pucat, bahkan perutnya juga mulai membucit dan mengeras. 

Lantaran kondisinya terus memburuk, dua minggu setelahnya rasa nyeri pertama itu muncul, Faiz kemudian dibawa ke sebuah rumah sakit di Pontianak. Melihat gejala yang dialami Faiz, dokter di rumah sakit menaruh curiga kalau Faiz sudah terkena Leukemia, salah satu jenis kanker yang paling sering menyerang anak-anak.

Mendengar hal tersebut, Yenni awalnya bingung. Penyakit itu terdengar begitu asing di telinganya. Namun saat tahu kalau Leukemia bisa mengancam nyawa anaknya, air mata Yanni langsung tumpah. Sedih, takut, semua perasaan campur aduk. Seolah-olah dunia akan runtuh. Padahal ketika itu, kondisi Yenni belum begitu pulih pasca melahirkan anak kedua.

"Leukemia tidak pernah ada dalam bayangan saya sebelumnya. Begitu dokter memberi tahu penyakit ini, saya dan suami langsung mencari tahu di internet. Setelah tahu, saya nangis semalaman membayangkan masa depan Faiz," cerita Yenni.

Berobat Ke Jakarta
Untuk menegakkan diagnosa penyakitnya itu, Faiz kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Kanker Dharmais di Jakarta untuk menjalani proses BMP (Bone Marrow Puncture). Kondisinya saat itu sudah sangat drop. Wajahnya pucat, perutnya makin terlihat membesar. Trombositnya bahkan sudah menyentuh angka 2000.

Dari hasil pemeriksaan BMT tersebut, diketahui bahwa memang sudah ada sel-sel kanker di tubuh Faiz. Yenni nyaris putus asa, membayangkan hari-hari berat yang bakal dilalui anaknya. "Hari-hari pertama di Jakarta memang sangat berat. Kami harus tinggal di kontrakan kecil dekat rumah sakit sebagai tempat tinggal sementara. Harta benda kami sebagian juga harus dijual untuk biaya berobat ke Jakarta,” curhat Yenni.

Lebih dari satu bulan Faiz dirawat di rumah sakit. Untuk membunuh sel-sel kanker di tubuhnya, Faiz harus menjalani proses kemoterapi yang terkadang semakin menambah penderitaannya. Mual dan muntah, kelelahan, sampai rambut rontok harus dihadapi Faiz tiap kali menjalani proses kemoterapi. Yenni harus pandai-padai membujuk anaknya itu agar mau dikemo. Andaikan saja rasa sakit itu bisa ditanggung, Yenni ingin sekali menanggungnya, supaya putra kesayangannya itu tidak lagi merasakan sakit.

Buah dari kedisiplinan menjalani pengobatan, kondisi Faiz berangsur membaik. Setelah 40 hari menjalani perawatan intensif di rumah sakit, pengobatan selanjutnya cukup dijalani dengan rawat jalan. "Untuk kemo, Faiz harus bolak-balik Pontianak - Jakarta. Anak kedua saya sampai tidak mengenali saya karena sering ditinggal ke Jakarta. Kalau jadwalnya kemo, kadang dititip di rumah neneknya atau saudara. Sedih juga harus sering ninggalin dia,” curhatnya.

Dari seorang teman yang kebetulan anaknya juga sedang dirawat di RS Kanker Dharmais, Yenni kemudian berkenalan dengan Pinta Manullang-Panggabean, Ketua Yayasan Anyo Indonesia. Yayasan ini memiliki rumah sementara untuk anak-anak dengan kanker yang berasal dari berbagai daerah yang datang ke Jakarta untuk berobat.

Saat mulai menjalani rawat jalan, beban finansial Yenni sedikit berkurang karena bisa tinggal sementara di rumah Anyo yang kebetulan dekat dengan RS Kanker Dharmais. Di tempat ini pula Yenni mendapatkan kekuatan tambahan karena bertemu dengan orang tua lain yang anaknya juga terkena kanker.

"Melalui sharing dengan para orangtua penderita kanker, saya jadi merasa tidak sendiri lagi. Ini membuat saya semakin kuat menemani Faiz menjalani pengobatan. Faiz juga senang, di Rumah Anyo banyak teman-teman yang  senasib dengan dia," ujar Yenni.

Ujian Kedua
Dua tahun menjalani kemoterapi, kondisi Faiz memang masih naik-turun. Kesabaran Yenni bahkan harus kembali diuji ketika Faiz mengalami masalah di otaknya. Dari hasil pemeriksaan laboratorium, rupaya ada cairan yang menyumbat otaknya. Ini membuat penglihatan Faiz jadi kabur karena masalah tersebut ikut menyebabkan gangguan di syaraf mata. Dari hasil BMP ulang, status kankernya bahkan sudah meningkat dari standar menjadi high risk.

Seperti ketika pertama kali didiagnosa menderita Leukemia, kondisi Faiz kembali drop, bahkan lebih parah. Sempat terlintas di pikiran Yenni, mungkinkan ini akhir dari perjuangannya bersama Faiz. Namun ia tak mau menyerah begitu saja. Segala pengobatan akan diupayakan untuk kesembuhan anaknya itu. "Saya ingin melihat Faiz sembuh dan jadi dokter seperti cita-cita dia," ujarnya lirih.

Kini, sudah lebih dari empat tahun Faiz menyandang status sebagai pasien Leukemia. Kondisinya sudah jauh lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya. Namun sampai saat ini, Faiz masih harus menjalani kemoterapi setiap lima minggu sekali. Tapi sekarang prosesnya menjadi lebih mudah karena Faiz makin menyadari pentingnya kemoterapi untuk kesembuhannya. "Sekarang dia sudah tidak takut lagi, malah kadang suka ngingetin kalau sudah dekat waktunya dikemo," ujarnya.

Bersyukur Ada Program JKN-KIS
Kanker, termasuk juga Leukemia merupakan penyakit yang membutuhkan pengobatan dalam jangka panjang. Tidak hanya lama, biaya pengobatannya pun tergolong mahal. Yenni bersyukur sekali karena ada program Jamkesmas dan JKN-KIS yang telah mengcover seluruh biaya pengobatan anaknya. 

“Karena proses pengobatan Leukemia itu panjang dan mahal, sejak awal dokter di rumah sakit sudah mengingatkan untuk pakai Jamkesmas. Ketika program JKN dimulai, saya juga langsung memanfaatkan kartu kepesertaannya untuk mengobati Faiz,” ujar Yenni. 

Dengan adanya kepastian jaminan pelayanan kesehatan dari BPJS Kesehatan, Yenni bisa lebih fokus dalam merawat anaknya, tidak lagi dipusingkan dengan biaya pengobatan. Program JKN-KIS telah memberinya harapan, suatu hari nanti Faiz pasti akan sembuh dan kembali ceria layaknya anak seusianya.

"Ketika Faiz harus dioperasi untuk menghilangkan cairan di otaknya, saat itu kebetulan program JKN baru dimulai. Biaya operasinya sampai lebih dari Rp25 juta, alhamdulillah ditanggung semua oleh BPJS Kesehatan,” tuturnya. 

Dari berbagai ujian hidup yang dilewatinya, Yenni kini menjadi sosok yang kuat.  Leukemia yang dulunya ia kira pasti berujung dengan kematian, ternyata bisa sembuhkan apabila disiplin melakukan pengobatan. "Dulu itu saya orangnya cengeng, sedikit-sedikit nangis. Tapi pengalaman bersama Faiz melawan kanker selama hampir lima tahun membuat saya jadi kuat. Tuhan baik sekali pada kami, Dia sudah membawa Faiz pada titik ini. Banyak hal positif yang saya dapatkan. Dan makin ke sini, saya merasa hidup kami makin indah," tutupnya.

File :