Malu Lho Kalau Iuran JKN-KIS Menunggak

Penulis : Humas Dibaca : 317 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 30 Nov 2018 00:00:00

Sintang (30/11/2018) -  Menjadi peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional - Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) adalah kewajiban seluruh penduduk Indonesia. Selain kewajiban untuk tergabung ke dalam  program tersebut, peserta juga selalu diingatkan untuk rutin membayar iuran setiap bulannya agar hak peserta dapat terjamin.

 

Adalah Lisnawati (35) salah satu pedagang warung di Dusun Empunak Kecamatan Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang yang merupakan peserta JKN-KIS segmen peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) dengan hak perawatan kelas dua. Sejak terdaftar menjadi peserta JKN-KIS, Lisnawati tidak pernah lupa membayar iuran setiap bulannya walaupun dirinya hanya pedagang warung yang penghasilan hariannya tidak menentu, tapi ia berkomitmen untuk selalu membayar iurannya secara rutin setiap bulan tanpa menunggak.

 

Pada saat ditemui tim Jamkesnews di lokasi usahanya, Lisnawati berbagi cerita dan tips agar dapat rajin membayar iuran JKN-KIS setiap bulannya.

 

“Saya beserta suami dan satu orang anak terdaftar sebagai peserta JKN-KIS di kelas dua, sehingga harus membayar iuran setiap bulannya sebesar Rp. 51.000,-. Kalau bertiga berarti totalnya Rp 153.000. Nah tipsnya biar saya selalu bisa bayar iuran rutin tanpa menunggak, setiap hari saya sisihkan uang Rp 5.500,-  dari hasil penjualan warung saya. Perhitungannya kalau satu bulan adalah 30 hari, maka Rp 5.500,- dikalikan 30 hari totalnya menjadi Rp.165.000,-,  dan yang saya bayarkan Rp. 153.000,- buat iuran JKN-KIS sebelum tanggal 10, jadi masih ada sisa dan sisanya bisa saya tabung lagi buat biaya tidak terduga,” jelas Lisnawati.

 

Membayar iuran setiap bulan sebelum tanggal sepuluh merupakan kewajiban peserta JKN-KIS agar kepesertaanya selalu aktif dan bisa digunakan tatkala sakit melanda. Oleh karenanya jangan menunggu sakit lalu iuran baru dibayar, justru hal tersebut akan mempersulit peserta untuk berobat karena kartu tidak aktif. Belum lagi risiko harus bayar denda pelayanan kesehatan jika ternyata harus menjalani perawatan di rumah sakit.

 

Lisnawati juga menambahkan, bahwa dirinya merasa malu jika iurannya menunggak. Karena Pada prinsipnya gotong royong untuk memajukan program JKN-KIS ini, yang sehat membantu yang sakit.

 

“Nanti jika saya atau anggota keluarga sakit terus kartunya gak aktif karena menunggak, kan malu saya mas kalau para tetangga dan saudara tahu. Pasti jadi bahan gosipnya ibu-ibu,” tambah Lisnawati.

 

Dengan tips sederhana yang dilakukan Lisnawati diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat lainnya untuk dapat rutin membayar iuran setiap bulannya dan memahami kewajibannya sebagai peserta JKN-KIS. Dengan rajin membayar iuran, peserta tidak lagi khawatir kartunya tidak aktif dan tidak bisa digunakan pada saat sakit.

 

Semangat seorang Lisnawati patut dijadikan teladan bagi peserta JKN-KIS lainnya, karena walaupun hidupnya sederhana namun ia tetap berkomitmen untuk bisa terus memenuhi kewajibannya membayar iuran. Tentu saja iuran yang dibayarkan setiap bulan dapat menjadi penolong bagi peserta JKN-KIS lainnya yang membutuhkan biaya pengobatan. Dengan gotong royong semua tertolong. (FR/aa)


File :