Akreditasi RS Di Papua, Perjuangan Bertaruh Nyawa

Penulis : Humas Dibaca : 755 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 07 Jan 2019 09:27:34

Jakarta (07/01/2019) - Di tengah maraknya pemberitaan mengenai RS yang mengeluhkan sulitnya proses akreditasi, sebuah rumah sakit di Kabupaten Lanny Jaya, Papua justru telah terakreditasi pada tahun 2018 lalu. Fakta ini mementahkan keluhan pihak rumah sakit yang mengaku sulit memproses akreditasi. Padahal sebagian dari mereka notabene tinggal di wilayah perkotaan, yang justru memiliki akses jauh lebih mudah ketimbang di pedalaman Papua.

 

“Kami yang di daerah sulit saja dengan keterbatasan transportasi, ketersediaan bahan-bahan, kami tetap memiliki komitmen yang kuat untuk meningkatkan pelayanan melalui akreditasi. Di Jawa yang segalanya serba mudah dan murah, masa mereka nggak bisa sih? Kita yang kondisinya begini saja berusaha semaksimal mungkin. Bahkan surveyor Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) dikawal siang malam oleh polisi bersenjata lengkap untuk alasan keamanan. Sampai kita kirim surat jaminan keamanan ke KARS dari Pak Bupati,” kata Direktur RSUD Tiom dr. Nataniel Imanuel Hadi mengawali ceritanya saat diwawancarai via telepon, Minggu (06/01).

 

Di Tanah Papua, perjuangan rumah sakit dalam memperoleh akreditasi harus dibayar mahal. Namun kondisi tersebut tak menggentarkan langkah Nathaniel untuk membawa rumah sakit yang dipimpinnya meraih akreditasi. Baginya, akreditasi rumah sakit merupakan sebuah jalan untuk meningkatkan mutu layanan di daerah pedalaman.

 

“Dulu saya sempat bertemu dengan Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Pak Bambang Wibowo. Waktu itu saya sempat sampaikan, kami tidak yakin bisa maju akreditasi dan lulus. Beliau pun menguatkan, asal ada niat baik saja, pasti bisa. Saya dapat semangat dari situ,” kenangnya.

 

Sebagai permulaan, Nathaniel segera membangun komitmen dengan seluruh petugas rumah sakit dan Pemerintah Daerah setempat. Pada 17 Agustus 2018, kick off akreditasi RSUD Tiom pun dimulai, ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama untuk menuju akreditasi. Tak lama berselang, Nathaniel sibuk mengirimkan timnya untuk mengikuti berbagai pelatihan terkait akreditasi.

 

“Dari Papua sampai Sumatera pun kami langkahi untuk menimba ilmu baru. Kami juga minta pendampingan dari RS Tadjuddin Chalid Makassar yang sudah lebih dulu terakreditasi paripurna. Tak lupa kami minta bimbingan Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) agar tak salah menempuh jalan menuju akreditasi,” tuturnya.

 

Menurutnya, proses akreditasi memerlukan sinergi yang baik dengan berbagai pihak. Ia mengaku banyak berkonsultasi dengan beberapa rumah sakit yang sudah lebih dulu menyandang akreditasi.

 

“Jangan malu meminta bantuan kepada rumah sakit lain. Kami juga dapat dukungan dari RS lain, seperti RS Wamena. Kami bersyukur mereka juga terakreditasi dan sekarang dapat bintang empat, sedikit lagi paripurna. Saya juga kirim orang ke RS Boven Digoel untuk studi banding. Itu tidak dekat. Kami harus bolak balik ganti pesawat untuk mencapai sana. Segala sesuatu kalau ada niat tidak ada yang susah. Yang penting punya niat untuk maju, sisanya biar Tuhan yang mengatur,” kata Nathaniel.

 

Ia pun bersyukur dokter dan perawat di RS setempat memiliki semangat yang tinggi untuk bekerja sama dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. Begitupun dengan Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya yang dinilai Nathaniel sangat concern dalam mengawal proses akreditasi.

 

“Bahkan Bupati dan Sekda Kabupaten Lanny Jaya selama hampir setiap hari mengunjungi RS kami untuk memantau langsung progress akreditasi. Kalau Pemdanya mendukung penuh, tidak ada yang tidak mungkin, walaupun dengan keterbatasan yang ada,” ungkapnya.

 

Menurut Nathaniel, selain di Kabupaten Lanny Jaya, ada sejumlah kabupaten di daerah pegunungan Papua yang RS-nya juga sudah terakreditasi, Kabupaten Wamena, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Pegunungan Bintang, dan Kabupaten Jayawijaya.

 

“Secara umum, kesulitan terbesar dalam akreditasi rumah sakit di Papua adalah ketersediaan alat, tapi itu bukan jadi masalah bagi kami karena dari sisi peralatan, rumah sakit kami bisa dibilang sudah cukup lengkap. Yang jadi kendala adalah kami belum memiliki pagar rumah sakit. Kelihatannya sepele, tapi itu adalah salah satu syarat akreditasi dan butuh biaya yang besar,” tuturnya.

 

Ia mengatakan, harga satu sak semen bisa mencapai 750 ribu rupiah. Padahal dana yang dimiliki terbatas. Itupun sudah digunakan untuk membeli peralatan medis, obat habis pakai, hingga untuk membeli solar guna menyalakan listrik rumah sakit selama 24 jam. Satu liter solar di Papua dihargai 25 ribu hingga 30 ribu rupiah, sehingga tak heran jika dalam satu tahun menghabiskan miliaran rupiah hanya untuk memastikan rumah sakit teraliri listrik. Sempat berpasrah diri, Nathaniel pun mengirimkan surat ke komunitas gereja dan komunitas muslim setempat. Bukan untuk meminta dukungan finansial, melainkan memohon agar mereka bisa mendoakan dalam setiap kegiatan keagamaan, agar Tuhan memberikan jalan keluar.

 

“Saya juga mengirim surat kepada sejumlah Kepala Desa untuk meminta bantuan apapun sesuai kemampuan yang mereka punya. Tak disangka, beberapa hari kemudian mereka datang membawa masing-masing warga untuk ikut membangun pagar tradisional untuk rumah sakit. Hampir empat hari jadi semua. Mereka bawa kayu dari kampung mereka, mereka pasang sendiri. Semua turun tangan ikut bantu membangun. Itu benar-benar menjadi momen istimewa tersendiri bagi saya. Dengan semangat kebersamaan, kami mampu melewati tantangan tersebut,” kata Nathaniel.

 

Nathaniel mengungkapkan, pencapaian akreditasi RSUD Tiom adalah kado tahun baru terindah bagi masyarakat Kabupaten Lanny Jaya. Dengan diperolehnya akreditasi tersebut, ia pun berharap pelayanan kesehatan di daerah tersebut bisa kian membaik.

 

“Semoga masing-masing daerah punya hal yang sama. Jangan patah semangat untuk rumah sakit lain yang belum terakreditasi. Kami rumah sakit kecil di terpencil saja mampu terakreditasi. Mudah-mudahan kisah ini bisa memotivasi untuk maju akreditasi,” ucap Nathaniel.



File :