Sempat Habis Ratusan Juta, Kini Pak Haji Bisa Bernapas Lega dengan JKN-KIS

Penulis : Humas Dibaca : 235 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 13 Apr 2019 00:00:00

Kabupeten Bogor (15/04/2019) - Sebelum kenal JKN-KIS, Saino (66) warga Kampung Benteng Kabupaten Bogor ini, harus rela mengeluarkan biaya sebesar lebih dari 100 juta rupiah untuk biaya mengobati sakit jantungnya di salah satu rumah sakit swasta di wilayah DKI Jakarta. Pria yang kerap disapa tetangganya dengan sebutan Pak Haji ini menuturkan bahwa awalnya ia merasakan sakit tak terhingga di dadanya. Ia pun memutuskan hingga berobat ke Puskesmas terdekat di Cigombong.

"Saya sempat dirawat di Puskesmas, tapi karena tak kunjung membaik akhirnya saya dirujuk ke RS Cicurug. Di sana saya baru terdeteksi penyakit jantung, lalu saya dirujuk ke RS Harapan Kita. Itu masih belum menggunakan JKN-KIS sehingga  saya harus mengeluarkan dana yang cukup banyak untuk membayar biaya berobat di RS Harapan Kita," cerita Saino kepada tim Jamkesnews saat ditemui di rumahnya, Senin (25/03).

Selain membayar biaya rawat inap selama di RS selama satu minggu, Saino pun diwajibkan dokter untuk berobat jalan secara rutin. Alhasil, ia mengaku tekor. Uangnya habis terkuras untuk berobat. Hingga pada tahun 2016, kala Saino hampir menyerah, sang anak berinisiatif untuk mendaftarkan Saino sebegai peserta JKN-KIS. Saino pun mengaku menyesal karena baru menyadari betapa besar manfaat JKN-KIS. Padahal, dulu ia pernah memandang sebelah mata program jaminan kesehatan ini.

"Yang saya pikirkan, kenapa nggak dari dulu ikut JKN-KIS. Alhamdulillah setelah terdaftar sebagai peserta JKN-KIS. sampai saat ini saya rutin berobat jalan setiap 3 bulan tanpa biaya. Anjuran dari anak saya ternyata benar adanya," jelas Saino yang merupakan pensiunan pegawai swasta.

Di tempat yang sama, putra Saino, Adityo Agung menjelaskan, pada saat itu dirinya berkali-kali membujuk ayahnya menjadi peserta JKN-KIS karena sadar jika biaya pelayanan kesehatan terus mengalami kenaikan tiap tahun. Apalagi sang ayah mengidap penyakit jantung yang notabene berbiaya tinggi. Meski berkali-kali diacuhkan, Adit pantang menyerah hingga hati ayahnya luluh.

"Alhamdulillah, orang tua saya adalah salah satu orang yang sangat merasakan manfaat besar tersebut. Namanya juga anak, pasti selalu ingin memberikan yang terbaik bagi orang tuanya. Begitupun dengan saya. Ayah saya sudah habis ratusan juta untuk berobat, siapa yang tidak sedih. Setelah berulang kali saya yakinkan, akhirnya ayah saya merasakan sendiri manfaat JKN-KIS. Senang rasanya, bisa sedikit meringankan beban ayah saya, sehingga tidak perlu resah memikirkan biaya berobat lagi. Mengingat manfaatnya yang besar saya menghimbau bagi siapa saja yang belum menjadi peserta JKN-KIS untuk segera mendaftar sebagai bentuk perlindungan diri untuk jaminan kesehatan, karena kita tidak tahu kapan datangnya sakit," ujar Adityo. (wb)


File :