CAPD Saja... Penderita dan Keluarga Lebih Nyaman

Penulis : Humas Dibaca : 34527 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 29 Sep 2015 10:20:15

Penderita gagal ginjal tidak bisa menolak untuk menjalani cuci darah atau hemodialisa seumur hidupnya, kecuali ada pilihan lain yaitu dengan cangkok ginjal atau mengganti ginjal yang rusak dengan ginjal yang masih sehat. Masalahnya, untuk mencari donor ginjal di Indonesia masih sulit. Selain hemodialisa, beberapa tahun ini semakin banyak penderita gagal ginjal yang beralih ke metode CAPD (continuous ambilatory  peritoneal dialysis).

Seperti dialami oleh Nurdin Hidayatulloh, 39, warga Pasuruan, Jawa Timur. Sembilan tahun lalu, Nurdin divonis gagal ginjal dan kedua ginjalnya sudah tidak bisa berfungsi lagi. Oleh karena itu, Nurdin harus mau menjalani cuci darah. Jika menolak itu, sama saja dia tidak mau hidup lebih lama lagi. Namun, baru sekali cuci darah di Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang, Nurdin ditawari menggunakan cara CAPD.

Ketika itu, seperti tak ada harapan. Tetapi kerabat dan keluarganya memberi dukungan hingga akhirnya Nurdin dan istrinya, Lailatus, merasa tegar. Setelah mendengar penjelasan dokter tentang CAPD dan manfaatnya, Nurdin pun siap menjalaninya. Dan Lailatus juga siap untuk mendampingi dan merawat suaminya.

Hemodialisa dan CAPD mempunyai tujuan yang sama yaitu membersihkan produk tubuh yang tidak berguna di dalam darah.  Hanya, caranya saja yang berbeda.  Pada hemodialisa proses dialisys-nya atau pembuangan racun atau produk tubuh melalui mesin hemodialisa. Ketika proses hemodialisa, penderita gagal ginjal harus dalam posisi terbaring.

Sedangkan pada metode CAPD, proses dialysis terjadi di selaput tipis yang berada di perut yaitu peritoneum. Pada saat proses CPAD, penderita gagal ginjal tidak perlu berbaring, tetapi bisa sambil duduk dan tetap beraktivitas seperti biasa.

Untuk mengikuti metoda CAPD, penderita harus dipasang kateter di bagian perut melalui operasi kecil. Persiapan pemasangan sampai pemulihan memerlukan waktu tiga hari. Sementara, pihak keluarga sebagai pendamping mengikuti pelatihan agar terampil melakukan sendiri proses CAPD.

“Keluarga pasien dilatih sampai bisa melakukan sendiri, bagaimana cara memasukkan cairan melalui kateter, mengetahui caranya menjaga kebersihan agar tidak terjadi infeksi. Kalau sudah bisa baru boleh pulang. Saya belajar sampai satu bulan karena waktu itu, suami saya dirawat satu bulan,” papar Lailatus.

Lailatus menjelaskan, dengan CAPD, Nurdin cukup sebulan sekali kontrol dokter spesialis di RS Saiful Anwar Malang, sehingga dapat menghemat waktu. Apalagi jarak dari Pasuruan ke RS Saiful Anwar di Malang ini bisa ditempuh sekitar dua jam dengan sepeda motor.

Setiap kontrol ke rumah sakit, tetap melalui rujukan Puskesmas lalu RSUD Pasuruan, baru ke RS Saiful Anwar Malang. Sedangkan cairan yang digunakan dialysis, dikirim setiap bulan ke rumah. “Jelas lebih mudah dengan CAPD. Tetapi kita harus menjaga kebersihan. Kalau mau pergi jauh, bisa bawa cairan, sehingga saat jadwalnya dialysis, dimana pun bisa dilakukan. Karena pasien tidak perlu tiduran dan dipasang banyak selang seperti hemodialisis,” ungkapnya.

Secara berkala, kateter bagian luar diganti setiap enam bulan sekali dan kateter di bagian dalam atau tepatnya di sekitar perut diganti setiap enam sampai delapan tahun. Menurutnya, perlu hati-hati menjaga kebersihannya. “Sekarang saya sedang antre obat, karena pergelangan tangan suami saya ada infeksi dan bernanah,” kata Imas, panggilan akrab Lailatus saat antre obat di RS Saiful Anwar, beberapa waktu lalu.

Dalam kondisi sakit, penderita gagal ginjal memerlukan dukungan penuh dari pihak keluarga untuk menambah semangat hidupnya. Apalagi, Nurdin tidak lagi bisa mencari nafkah seperti biasanya. Usahanya memberikan pinjaman (kredit) barang-barang rumah tangga terpaksa tidak bisa berjalan seperti biasa, dan akhirnya berhenti.

Meski demikian, sebagai istri, Imas Nurdin tetap bersyukur karena memiliki orangtua, teman, kerabat, yang sangat peduli dengan kondisi keluarganya. “Bagaimanapun mungkin ini cobaan dari Tuhan. Kita harus tetap bersyukur. Kalau bisa saya maunya mandiri, artinya tidak merepotkan orang lain,” kata Imas.

Imas pun mulai menceritakan dari awal saat suaminya sakit. Awalnya, Nurdin mengalami sakit kepala. “Pas pulang kerja, dia (Nurdin – red) bilang mumet (pusing – red), lalu dia tidur. Karena merasa mual dan pusing, saya bawa ke dokter. Ternyata tensinya 220, kata dokter sakit maag,” kenang Imas.

Setelah itu, malam harinya, Nurdin muntah-muntah keluar darahnya. Kemudian, dibawa ke Rumah Sakit Umum Pasuruan. Setelah melihat hasil test laboratorium, barulah diketahui kedua ginjalnya sudah tidak bisa berfungsi lagi alias gagal ginjal. Sejak itulah, Nurdin harus menjalani hemodialisa atau cuci darah.

Tentu saja, Imas bingung memikirkan biayanya. Untunglah ketika itu masih bisa mengurus surat tidak mampu dan bisa masuk ke data BPS sehingga Imas mendapatkan kartu Jamkesmas. Sehingga biaya untuk hemodialisa ditanggung oleh negara. Namun, ketika masa transformasi BPJS Kesehatan, Nurdin tidak masuk dalam penerima bantuan iuran (PBI).

“Suami saya tidak mendapat lagi Jamkesmas. Saya sudah mengurus ke Dinas Kesehatan, tetapi tidak ada datanya. Kemudian, orangtua dan saudara-saudara saya menyarankan untuk mendaftar BPJS Kesehatan yang membayar saja. Dan saya sekeluarga sekarang sudah menjadi peserta kelas 3 BPJS Kesehatan. Tetapi yang bayar iurannya orangtua saya,” ujarnya lirih.

Beruntung, Imas memiliki keluarga yang memberi dukungan secara gotong royong membantu secara finansial. Sementar anak semata wayangnya, Iza Awalin Choirunisa yang kini duduk di kelas 3 SMP, mendapat beasiswa, sehingga memperingan biaya sekolahnya.

“Saya inginnya membayar sendiri. Tapi kan saya belum mampu, jadi seharusnya mendapat Jamkesmas (kini PBI – red). Honor saya jadi guru PAUD hanya Rp 300 ribu perbulan. Karena suami saya membutuhkan, ya terpaksa saya menerima bantuan dari orangtua dan saudara-saudara,” ujarnya.

Untuk kebutuhan sehari-hari, dia yakin selalu ada saja rejeki. Suaminya masih bisa membantu pekerjaan rumah seperti menyapu, mencuci pakaian, dan sesekali memasak. Untuk makannya, penderita gagal ginjal yang menggunakan CAPD, bisa makan nasi, sayur seperti sayur asem, sop, buncis. Jadi, berbeda dengan peserta hemodialisa yang harus makan makanan tertentu.

“Nah, untuk menjada agar kran kateter selalu bersih, saat mandi harus ditutup. Pernah juga luka di sekitar kateter. Saya harus beli salep sendiri, karena tidak dijamin oleh BPJS Kesehatan. Dan saya kasih betadin,” ujarnya.

Kini, Imas selalu menjaga kesehatannya. Meskipun dirinya dan anak semata wayangnya sudah mempunyai jaminan dari BPJS Kesehatan, tetapi Imas tidak ingin sakit. “Saya ingin sehat, dan kalau saya sudah mampu saya akan bayar sendiri iurannya untuk sekeluarga saya,” ujarnya. []


File :