Bertahan Hidup Bersama JKN-KIS

Penulis : Humas Dibaca : 750 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 05 Feb 2019 00:00:00

Temanggung (05/02/2019) - Tumirah (48) adalah seorang ibu rumah tangga yang bekerja sebagai buruh cuci. Empat tahun lalu, Tumirah mendapati benjolan di payudara sebelah kanannya. Saat itu dia hanya berobat melalui pengobatan tradisional. Namun setelah dua tahun berlalu, benjolan tersebut semakin membesar dan akhirnya Tumirah mulai berobat ke Puskesmas menggunakan kartu JKN-KIS yang telah dimilikinya.

 

"Dulu saya sempat dirujuk ke Rumah Sakit Kota Magelang, namun karena di sana tidak ada poli onkologi maka akhirnya saya dirujuk ke RSUD Temanggung," kata wanita asal Pakis, Magelang ini kepada Jamkesnews, Selasa (29/01).

 

Setelah dibiopsi ternyata diketahui bahwa benjolan di payudara Tumirah tersebut ganas dan harus segera dioperasi. Setelah selesai operasi Tumirah pun melanjutkan pengobatannya dengan menjalani radioterapi. Ternyata pengobatannya tidak berhenti sampai di situ karena di payudara sebelah kirinya mulai muncul benjolan lagi.

 

"Saya masih harus banyak-banyak bersabar, setelah payudara kanan saya dioperasi akhirnya demi kesehatan dan keselamatan, payudara sebelah kiri saya juga harus diambil. Total operasi payudara yang saya lakukan sebanyak 6 kali karena muncul benjolan kecil di bekas operasi. Dokter lalu menyarankan saya untuk kemoterapi, dan hingga saat ini saya sudah menjalani kemoterapi sebanyak 15 kali," kisahnya.

 

“Saya beruntung sekali telah menjadi peserta JKN-KIS, kalau tidak ada JKN-KIS, mungkin saya sudah mati mbak karena sudah pasti saya tidak punya biaya untuk melakukan operasi payudara, apalagi itu harus dilakukan berkali-kali, biayanya pasti banyak sekali,"  katanya.

 

Ibu tiga anak ini bersyukur Program JKN-KIS telah membantunya bertahan hidup.  Sementara untuk memenuhi hidupnya  sehari-hari Tumirah mengandalkan upah dari buruh cuci yang penghasilannya sangat terbatas. Kendati demikian, Tumirah tetap bersemangat menjalani hidupnya dan juga melanjutkan pengobatannya dengan menggunakan JKN-KIS.

 

"Pelayanan di rumah sakit sudah bagus. Dokter dan pegawainya juga sangat ramah. Iuran yang tiap bulan  saya bayarkan kalau dihitung-hitung pasti tidak sebanding dengan besarnya biaya pengobatan saya, apalagi kalau saya harus mengeluarkan uang dari kantong saya sendiri," ucapnya.

 

Tumirah berharap program JKN-KIS tetap ada dan berkelanjutan untuk membantu orang-orang yang sakit dan membutuhkan jaminan kesehatan seperti dirinya. Tumirah sering menceritakan pengalamannya kepada saudara dan teman-temannya serta mengajak mereka untuk ikut program JKN-KIS karena sadar tujuan dibuatnya program JKN-KIS ini sangatlah mulia yaitu saling tolong menolong, dimana peserta yang sehat melalui iuran yang dibayarkannya akan  menolong peserta lain yang sakit dan membutuhkan biaya pengobatan.

 

"Saat kita membayar iuran walaupun kita tidak sakit, saat itulah kita  ikut membantu orang lain," tutupnya. (ma/wt)



File :