Pandu : Kami Bangga Mengiur JKN-KIS Tanpa Harus Menggunakannya Untuk Berobat

Penulis : Humas Dibaca : 158 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 05 Sep 2019 08:13:00

“Kami sekeluarga sangat bangga menjadi peserta JKN-KIS, kami juga sadar kewajiban untuk mengiur setiap bulannya dengan harapan kami tidak pernah sakit dan menggunakan jaminan JKN-KIS ini” 

Bangli, Jamkesnews – Anggapan orang cenderung mengatakan rugi jika punya Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) tetapi tidak pernah menggunakannya. Sebagian dari yang beranggapan demikian merasa rugi uang iurannya hilang begitu saja.  Namun tidak sedikit juga yang beranggapan bahwa lebih baik rutin mengiur setiap bulannya asalkan tidak pernah sakit dan menggunakan jaminan dari JKN-KIS tapi bukannya merasa rugi, justru sangat menguntungkan karena berarti sehat dan dapat membantu sesama.

Salah satunya adalah keluarga dari Pande Pandu Winata (34). Pria yang berasal dari Bangbang Bangli ini mengaku dirinya sejak lama telah menjadi peserta JKN-KIS. Dirinya didaftarkan oleh tempat ia pekerja, begitu juga isterinya. Sedangkan beberapa anggota keluarganya terdaftar sebagai Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau peserta mandiri yang iurannya dibayarkan pribadi perorang perbulan. Namun apapun jenis kepesertaanya menurutnya semua sama-sama mengiur dan sama-sama memiliki kesempatan bergotong-royong dan merasakan manfaat yang sama.

“Kebetulan saya sangat suka mengabdi di desa dan saya peduli dengan program pemerintah seperti JKN-KIS ini. Menurut saya program ini konsepnya sangat luar biasa dan sangat cocok dengan kehidupan bergotong-royong di desa, hal ini penting untuk ditularkan kepada masyarakat khususnya peserta JKN-KIS yang saat ini mungkin lebih berfikir jaminan ini adalah mutlak untuk orang sakit, itu adalah pemikiran yang keliru,” jelas Pandu, sapaan akrabnya.

Pemikiran ini tentunya merupakan pengalaman yang ia rasakan sendiri, sebagai keluarga besar, seluruh keluarga Pandu telah terdaftar sebagai peserta JKN-KIS. Ia pun menanamkan pentingnya program ini bukan karena manfaatnya untuk orang sakit tetapi manfaatnya untuk kesehatan keluarganya. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa ini juga untuk menjaga-jaga ketika keluarganya ada yang mengalami sakit, namun manfaat besarnya justru hadir ketika mereka semua sehat.

“Kami di pedesaan ditanamkan pentingnya gotong-royong, dan ini kami alami langsung sebagai peserta JKN-KIS. Kami mendapatkan kesempatan untuk membantu sesama, meskipun kami harus rutin mengiur setiap bulannya tapi sangat berharap tidak akan merasakan manfaatnya karena berarti kami harus sakit terlebih dahulu. Manfaat besarnya justru kami dapat ketika kami sehat, kami telah ikut membantu saudara yang sedang tergeletak lemah di rumah sakit dan menggantungkan harapan hidupnya pada JKN-KIS ini. itulah yang menyebabkan kami bangga menjadi peserta JKN-KIS,” cerita Pandu.

Iuran yang rutin ia bayarakan setiap bulannya telah membantu pembiayan jaminan peserta lainnya yang lebih membutuhkan. Menurut Pandu hal tersebut memberikan energi khusus baginya dan tentunya berpengaruh kepada pemikiran untuk selalu hidup sehat. Hal inilah menurutnya perlu ditularkan kepada masyarakat yang belum menjadi peserta JKN-KIS bahkan juga kepada peserta JKN-KIS yang masih berfikir mengikuti program ini hanya karena sakit.

Program JKN-KIS ini menurutnya wajib didukung semua pihak, masyarakat dapat memberi dukungan dalam bentuk menjadi peserta JKN-KIS yang taat untuk memenuhi kewajibannya sebagai peserta yaitu rutin membayar iuran dan  menjalani prosedur yang berlaku. (ay/gw)


File :