Kisah Anthony Berjuang Melawan Gagal Ginjal Bersama JKN-KIS

Penulis : Humas Dibaca : 251 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 18 Sep 2019 11:03:08

Tarakan, Jamkesnews – “Awal divonis gagal ginjal, hidup terasa tidak tentram. Namanya orang terkena penyakit, mental juga ikut terganggu. Pikiran mengambang dan tiap malam sering terbangun karena tiba-tiba merasa kaget. Namun ada suatu titik dimana saya punya keyakinan suatu saat saya akan sembuh. Sejak itu saya putuskan untuk melanjutkan hidup dengan gembira dan tidak murung karena penyakit.”

Itulah sepenggal kisah yang disampaikan Anthoni (72), salah seorang peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), pasien gagal ginjal yang telah menjalani cuci darah sejak tahun 2010 hingga akhir tahun 2017 lalu.

Benar, Anthoni sudah melakukan cuci darah selama 7 tahun. Tepatnya dari Juli 2010 hingga September 2017. Dan kini, berkat kegigihannya melawan penyakit yang dideritanya, Ia dinyatakan oleh dokter tidak lagi harus menjalani cuci darah.

Ketika ditemui Tim Jamkesnews di kediamannya pada Senin (17/09), Anthoni mulai menceritakan awal mula dirinya harus menjalani rutinitas tersebut.  “Awalnya karena prostat yang terlambat untuk dioperasi. Saluran kemih saya tersumbat, jadi urin kembali diolah ginjal dan merusak ginjal,” katanya.

Gejala yang dirasakan Anthoni seperti susah tidur, badan gatal-gatal dan prostat yang semakin parah ketika itu memaksanya untuk segera ke UGD rumah sakit. Dari dokter yang memeriksa, ia diharuskan untuk menjalani cuci darah sebelum melakukan Prostatektomi (operasi prostat).

“Saat itu kata dokter kreatinin saya tinggi, dimana kondisinya mengakibatkan saya tidak bisa di bius. Harus cuci darah dulu untuk menurunkannya. Beberapa hari setelahnya, saya datang untuk cuci darah menjelang sore hari dan keesokan paginya sudah bisa langsung dioperasi,” ungkapnya.

Namun setelah menjalani operasi, cuci darah tak serta merta ikut terhenti. Setelahnya, pensiunan TNI AL ini harus rutin menjalani cuci darah hingga 2 kali dalam seminggu.

“Ketika itu saya tetap bertekad ingin sembuh, walaupun kebanyakan orang mengatakan bahwa kemungkinannya sangat kecil. September 2017, saya menjalani pemeriksaan lab dan hasilnya membuat saya benar-benar terkejut dan seakan-akan tidak percaya. Dokter mengatakan bahwa tanda-tanda dalam tubuh saya mulai menujukkan angka normal. Dokter pun menegaskan bahwa pemeriksaan lab sudah dilakukan hingga 2 kali,” ungkapnya sambil menunjukkan hasil pemeriksaan lab terakhirnya.

Saat ditanya apa yang membuatnya mampu bertahan melawan penyakit, kepada Tim Jamkesnews dirinya mengaku bahwa selain karena anugerah Tuhan, dukungan keluarga dan KIS yang dimilikinya telah menjadi penyokong hidupnya.

“Dukungan keluarga itu sangat penting. Keluarga selalu mengingatkan saya untuk terus berdoa dan tidak menyerah. Jadi saya berusaha untuk kuat demi mereka,” ujarnya.

“Pada masa itu saya juga sering dengar dari orang-orang. Kalau tidak salah untuk sekali cuci darah biayanya sampai 1,7 juta rupiah. Sedangkan saya sendiri harus cuci darah 2 kali dalam seminggu. Tidak mampu saya bayangkan, berapa biaya yang dibutuhkan jika selama 7 tahun menjalani cuci darah tanpa menggunakan kartu JKN-KIS,” tambahnya lagi.

Diakui Anthoni, dirinya sangat bersyukur menjadi peserta JKN-KIS. Dengan prinsip gotong-royong melalui program JKN-KIS, dirinya mampu bertahan hingga kini tak lagi harus jalani cuci darah.

“Tentunya saya tidak berjuang sendiri, tapi saya juga berjuang bersama JKN-KIS dan jutaan peserta lainnya yang ikut membayar iuran JKN-KIS ini. Berkat uluran tangan mereka, saya mampu melanjutkan hidup hingga saat ini,” tutupnya. (KA/om)


File :