Pimpinan PLN Tarakan, beberkan Perbedaan Asuransi Pemeritah Di 2 Negara Iuran JKN-KIS Masih Murah

Penulis : Humas Dibaca : 345 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 04 Oct 2019 12:33:00

Tarakan, Jamkesnews – Pernah menjalani studi di negara Jerman membuat Suparje Wardiyono, Manager PT PLN Persero UP3 Tarakan ini sempat memiliki asuransi kesehatan yang diwajibkan oleh pemerintah Jerman. Di Jerman, asuransi kesehatan diwajibkan bahkan oleh mahasiswa asing yang hendak menempuh pendidikan disana.

“Jika ingin kuliah di Jerman, kita memerlukan asuransi kesehatan, karena mahasiswa internasional dilarang untuk mendaftar ke universitas Jerman tanpa asuransi kesehatan,” katanya.

Selanjutnya Suparje menjelaskan bahwa penyedia asuransi kesehatan di Jerman diwajibkan untuk menawarkan premi asuransi yang terjangkau untuk mahasiswa hingga berumur 30 tahun atau hingga akhir dari semester ke-14 dari perkuliahan mereka. Premi ini adalah sekitar 80 EUR atau 1,2 Juta Rupiah per bulan. Premi asuransi berbeda-beda tergantung penyedia dan kondisi yang ditanggung.

“Saya terdaftar di salah satu asuransi kesehatan milik pemerintah Jeman bernama Technische KrankenkasseSelama menempuh pendidikan disana, saya sempat menggunakan jaminan kesehatan ini untuk persalinan istri saya. Pelayanannya baik, namun ada beberapa obat yang tidak tidak ditanggung sehingga harus menambah biaya tambahan,” ujarnya.

Selanjutnya Suparje menambahkan, bahwa jika dibandingkan dengan program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan, iuran yang ditetapkan oleh pemerintah saat ini masih murah dibandingkan dengan manfaatnya yang begitu besar.

“Pada program JKN-KIS, iuran yang ditetapkan saat ini saya rasa masih murah jika dibandingkan dengan manfaat yang dijamin dalam program ini. Untuk iuran yang paling murah saja senilai Rp 25.500,- per jiwa per bulan, masyarakat sudah tidak perlu khawatir jika suatu saat harus terkena penyakit berbiaya besar. Contoh saja jantung atau cuci darah,” jelasnya.

Jika ditanya pendapatnya tentang rencana penyesuaian Iuran JKN-KIS, dirinya mengaku setuju karena hal ini dapat mengajaga suistainabilitas program yang dibutuhkan oleh masyarakat.

“Jika dibandingkan dengan Jerman dan negara lain, JKN-KIS memiliki jumlah peserta yang paling besar untuk sebuah asuransi kesehatan yang dimiliki oleh pemerintah. Setiap tahun jumlah peserta semakin bertambah dan yang menggunakan manfaatnya pun semakin banyak. Tentunya diperlukan penyesuaian iuran, agar program ini tetap dapat berjalan dan manfaatnya tetap dirasakan oleh semua orang,” terang Suparje.

Selain itu, Suparje tak lupa mengingatkan untuk pentingnya masyarakat menjaga keberlangsungan Program JKN-KIS dengan tetap rutin membayar iuran, tidak hanya saat sakit tapi juga saat masih sehat.

“Program ini ada dan berjalan karena sistem gotong royong yang ada didalamnya. Tentunya dengan masyarakat rutin membayarkan iuran tidak hanya saat sedang sakit, namun juga saat sedang sehat agar Program ini tetap bisa berjalan dan membantu masyarakat,” tutupnya. (KA/om)


File :