Mulianah : Kader JKN Merupakan Tugas Mulia

Penulis : Humas Dibaca : 335 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 12 Oct 2019 10:23:00

Tangerang, Jamkesnews – Bukan hal yang mudah bagi seorang Kader JKN untuk melaksanakan tugas mulianya. Beberapa respon yang didapat dari para peserta terhadap Kader JKN, dimulai dari respon positif hingga respon negatif.

Perlu diketahui, Kader JKN merupakan mitra resmi BPJS Kesehatan yang memiliki peran untuk memberikan pemahaman mengenai Program JKN-KIS, mengingatkan membayar iuran, memberi pemahaman tentang layanan kesehatan dan masih banyak lagi. Namun, sebelum melaksanakan kewajibannya, para Kader JKN telah diberikan pelatihan tentang Program JKN-KIS agar dapat memberi penjelasan yang tepat mengenai program JKN-KIS. 

Mulianah, merupakan salah satu Kader JKN yang berasal dari Tangerang. Saat ditemui oleh tim Jamkesnews, Mulianah dengan senang hati membagikan pengalamannya menjadi Kader JKN.

“Saya menjadi kader sejak awal Program Kader JKN diluncurkan oleh BPJS Kesehatan. Dulu itu ada informasi, setiap kecamatan harus mengirimkan duta untuk menjadi Kader JKN. Kebetulan saya juga cukup aktif di kegiatan Kecamatan Ciputat Timur, akhirnya saya direkrut oleh Bapak Camat saat itu. Sekarang saya Kader JKN paling tua di Tangerang, karena paling lama, dan saat ini dipercaya sebagai supervisor,” ujar Mulianah, Rabu (02/10).

Mulianah mengatakan Kader JKN merupakan tugas yang sangat mulia. Hal tersebut yang menjadi alasan dirinya untuk ingin menjadi Kader JKN. Saat kali pertama menjalankan tugasnya, Mulianah memulai sosialisasi kepada kelompok majelis taklim serta arisan RT dan RW di lingkungan kelurahan yang menjadi tanggung jawabnya. Selama menjalani tugasnya, ia mengaku memiliki kepuasan sendiri karena saling berbagi informasi kepada masyarakat.

“Kalau ditanya kenapa saya enjoy dan bertahan menjadi Kader JKN, jawabannya adalah saya mendapat kepuasan batin tersendiri. Pertama saya senang, dari orang yang awalnya tidak paham soal Program JKN-KIS akhirnya mereka paham. Mereka yang awalnya tidak mau berobat karena tidak ada biaya, akhirnya bisa untuk berobat. Bahkan ada yang sampai pasang ring jantung. Selama menjadi Kader JKN, saya merasa makin banyak yang tertolong, maka dari itu saya harus bertahan,” ungkap Mulianah senang.

Namun, di balik kesenangan yang dialami Mulianah, ternyata tersimpan kenangan pahit yang tidak dapat dilupakan saat dirinya menjadi Kader JKN. Hal tersebut terjadi dua tahun silam, di mana ia saat itu sedang melakukan sosialisasi, dan tiba-tiba datang seorang laki-laki dengan mengacungkan golok dan mengancam Mulianah.

“Saat saya sedang sosialisasi, ada seorang bapak yang langsung marah mengacungkan golok ke saya. Dia bilang, siapa itu yang sosialisasi, cucu saya ditolak masuk rumah sakit, padahal kami bayar terus. Akhirnya setelah selesai acara, saya beranikan diri ke rumah bapak tadi. Ternyata cucunya baru diare satu hari dan minta dirawat inap di rumah sakit. Setelah saya jelaskan alur pelayanannya, beliau akhirnya paham,” ujarnya.

Dalam melaksanakan sosialisasi Mulianah selalu memberikan contoh nyata peserta yang sudah terbantu pengobatannya dengan Program JKN-KIS. Sebelum memulai sosialisasi di satu tempat, Mulianah selalu mencari tahu peserta yang terbantu di wilayah tersebut untuk memberikan cerita pengalaman mereka. Menurutnya cara sosialisasi semacam ini lebih mengena di masyarakat.

“Kalau sosialisasi, saya suka ambil contoh kasus. Pernah di daerah Pondok Aren saya ajak pesertanya, dia terkena kanker payudara. Sebelumnya dia menolak berobat dengan JKN-KIS, akhirnya ia jual kontrakan dan sebagainya. Sampai habis semua aset, ternyata pengobatan belum selesai. Akhirnya dia mau berobat dengan JKN-KIS dan ternyata pelayanan yang diterima sama. Jadi dia mau berbagi ceritanya kepada masyarakat lain,” tutup Mulianah. (RS/la).


File :