Sebelum JKN-KIS Hadir, Masyarakat Ekonomi Lemah Yang Sakit Hanya Berdiam Diri Di Rumah

Penulis : Humas Dibaca : 521 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 15 Oct 2019 10:25:17

Payakumbuh, Jamkesnews - Kepala Bidang Kepesertaan dan Pelayanan Peserta BPJS Kesehatan Payakumbuh, Atmi Mesra, menyebut bahwa  masih banyak orang-orang dengan ekonomi lemah saat mengalami sakit memilih untuk berdiam diri di rumah akibat tidak memiliki biaya berobat di Rumah Sakit.

"Saat kami melakukan kunjungan ke rumah-rumah masyarakat di kampung-kampung, mereka menangis karena selama ini hanya berobat secara tradisional dan ke dukun. Dan setiap sakit hanya bisa berdiam diri di Rumah. Mereka menyebut biaya berobat kerumah sakit atau kedokter sangat mahal," cerita Atmi Mesra saat memberikan sosialisasi dalam program BPJS Kesehatan Goes To Customer 2019 di Dinas Bappeda, Kota Payakumbuh, kemarin.

Atmi Mesra menyebut, sejak adanya program JKN-KIS ini masyarakat dengan ekonomi lemah tidak susah lagi untuk bisa berobat kerumah sakit. Mereka, sebut Atmi Mesra, tidak memikirkan lagi biaya yang harus dibayar di RS, sebab akan dijamin JKN-KIS sesuai prosedur yang berlaku, sehingga saat ini rumah sakit dan fasilitas kesehatan dimana-mana sesak dengan pasien yang hendak berobat baik rawat jalan maupun inap.

BPJS Kesehatan sebutnya, terus melakukan inovasi untuk kemudahan, kepastian dan kecepatan layanan peserta program JKN-KIS, mengingat saat ini sudah 80 persen dari jumlah penduduk Indonesia terlindungi program JKN-KIS. Bahkan rata-rata perhari  ada 640.844 jiwa yang berobat ke fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.

Dia juga menyebut, untuk biaya pelayanan kesehatan untuk rawat umum di rumah sakit minimal menghabiskan biaya 2 juta rupiah. Tentu, kalau uang dua juta langsung keluar dari kantong terutama orang ekonomi lemah pasti akan terasa sulit. Maka, tidak jarang orang berhutang bahkan menggadai barang-berharga miliknya untuk membayar biaya Rumah sakit.

Dicontohkannya, dibutuhkan 5882 peserta kelas 3 yang sehat dan membayar iuran untuk membiaya 1 orang operasi jantung dengan biaya kurang lebih 150 juta rupiah. Begitulah  sistem gotong royong dalam program JKN-KIS ini dijalankan. 

"Iuran yang kita bayar itu jelas bermanfaat bagi diri kita dan kelurga kita jika sewaktu-waktu sakit. Dan hebatnya lagi jika kita sehat, iuran yang kita bayar itu juga akan sangat bermanfaat bagi peserta lain yang sedang sakit," sebutnya.

Kepala Bappeda Kota Payakumbuh, Ifon Satria Chan, yang ikut dalam program BPJS Kesehatan Goes To Customer 2019, mengapresiasi inovasi pelayanan yang dilakukan pihak BPJS Kesehatan cabang Payakumbuh, mengingat ASN di setiap instansi Pemerintah tidak punya waktu banyak untuk antri mengurus terkait BPJS Kesehatan.

"Dengan adanya inovasi Goes to Customer ini otomatis ASN yang ingin mengurus BPJS Kesehatan tidak perlu datang ke kantor BPJS Kesehatan tetapi cukup bawa persyaratan yang dibutuhkan. Pekerjaan jadi tidak terganggu. Tadi juga ada ASN yang mengurus kartu JKN-KIS," sebutnya ramah kepada awak media.

Salah seorang ASN Bappeda, Neta, mengaku senang dengan pelayanan jemput bola yang dilakukan pihak BPJS Kesehatan. Menurutnya, dengan inovasi Goes to Customer ini peserta JKN-KIS dapat curhat terhadap berbagai keluhan yang dirasakan sekaligus mengetahui solusinya.

"Senang ya. Saya mengganti dari kartu kuning jaman Askes dulu menjadi kartu JKN-KIS. Tidak perlu antri di kantor BPJS Kesehatan, saya juga banyak dijelaskan mengenai hak, kewajiban dan prosedur JKN-KIS, jadi lebih paham sekarang. Pokoknya bagus inovasi ini," sebut Neta mengapresiasi BPJS Kesehatan Cabang Payakumbuh. (aw/rk)


File :