Peserta PBI APBN Terselamatkan Oleh Program JKN-KIS

Penulis : Humas Dibaca : 302 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 27 Nov 2019 10:31:00

Parepare, Jamkesnews – Tak terasa sudah berada di penghujung tahun keenam Program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang dikelola BPJS Kesehatan berjalan. Dalam prosesnya program ini banyak memberi dampak bagi masyarakat ketika mengakses Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) maupun Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL).

Pemerintah Indonesia memiliki komitmen tinggi untuk selalu hadir di tengah masyarakat Indonesia. Saat ini Pemerintah melalui APBN Pemerintah Pusat menanggung iuran JKN-KIS bagi sekitar 96 juta penduduk miskin dan tidak mampu yang telah didaftarkan sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBN, sementara sekitar 37 juta penduduk ditanggung iurannya melalui APBD.

Baharuddin (32 tahun) merupakan warga Macinnae, Paleteang Kabupaten Pinrang, Ia salah satu peserta JKN-KIS dari segmen PBI APBN. Ia menceritakan pengalamannya pada Tim Jamkesnews ketika ditemui disela-sela melaksanakan rutinitas cuci darah di ruang hemodialisa RS Andi Makkasau Parepare, Senin (25/11). 

“Dengan adanya Program JKN-KIS ini, pemerintah telah memperhatikan saya sebagai warganya karena saya termasuk yang tidak mampu. Sejak saya pulang sebagai tenaga kerja dari luar negeri sampai di kampung halaman saya tidak mempunyai lagi pekerjaan sehingga tidak mempunyai penghasilan," katanya.

Ia mengatakan sejak didiagnosa sebagai penderita gagal ginjal, ia diharuskan untuk melakukan cuci darah.

"Dengan terdaftar sebagai peserta PBI APBN yang dibayarkan iuran oleh Pemerintah Pusat saya sangat berterima kasih pada pemerintah karena tidak perlu lagi membayar iuran,” kata Bahruddin.

Bahruddin menambahkan pada saat memanfaatkan JKN-KIS tidak ada kendala yang dirasakan pada saat ke fasilitas kesehatan, pelayanan sangat bagus dan ramah serta semua dijamin asal sesuai dengan prosedur.

"Saya rutin cuci darah, tidak ada kendala yang berarti saat menggunakan kartu JKN-KIS. Pelayanan yang saya terima juga sangat bagus, tidak dibeda-bedakan sama pasien lainnya," ungkapnya. 

Setiap kali melakukan cuci darah diperlukan biaya yang besar, bayangkan bilamana seorang pasien gagal ginjal yang harus menjalani dua sampai tiga kali cuci darah dalam seminggu. Jika hal tersebut terjadi kepada pasien umum tanpa JKN-KIS, ia  harus membayar biaya sekitar 1 s.d. 2 juta rupiah untuk 1 kali cuci darah.  Akan tetapi kekhawatiran itu semua sirna bagi pasien gagal ginjal yang menjadi peserta JKN-KIS.

“Saya bangga dan terharu pemerintah memperhatikan masyarakatnya dengan Program JKN-KIS ini, saya tidak bisa berkata apa lagi kalau tidak ada program ini. Terima kasih JKN-KIS,” tutup Bahruddin. (HJ)


File :