JKN-KIS Beri Harapan Baru Bagi Yohanes

Penulis : Humas Dibaca : 214 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 28 Jul 2020 12:55:18

 

Salatiga, Jamkesnews - Yohanes Surono, warga Argomulyo Kota Salatiga, menjadi salah satu peserta Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang merasa sangat bersyukur telah dibantu biaya pengobatannya. Bapak satu anak ini mengaku telah mengalami sakit gagal ginjal sejak 6 tahun lalu. Selama itu pula Yohanes menjalani pengobatan cuci darah atau yang dikenal hemodialisa dengan memanfaatkan JKN-KIS.

 

“Sangat bersyukur sekali ada BPJS Kesehatan. Jika saya tidak terdaftar sebagai peserta JKN-KIS mungkin saat ini saya sudah tidak ada di dunia ini,” ucap Yohanes penuh haru kepada Jamkesnews, Senin (27/07).

 

Yohanes bercerita, yang mencari nafkah dalam keluarganya hanyalah sang istri dengan berjualan tahu campur. Dengan pendapatan seadanya, ia harus membiayai hidup satu keluarga serta kuliah anaknya. Yohanes pun tak bisa membayangkan dari mana ia bisa membiayai cuci darah jika belum menjadi peserta JKN-KIS.

 

“Untuk periksa ke dokter spesialis saja per pertemuan bisa mencapai 400 ribu. Sedangkan untuk cuci darah 1 kali keluar biaya 750 ribu. Padahal satu minggu butuh 2 kali cuci darah, paling tidak sudah 1,5 juta sendiri. Belum lagi biaya untuk kuliah anak. Saya hidupnya bagaimana kalau tidak ada BPJS Kesehatan. Alangkah baiknya pemerintah sudah menghadirkan Program JKN-KIS yang dikelola BPJS Kesehatan. Berkat program ini biaya pengobatan yang seharusnya dikeluarkan bisa dialihkan untuk biaya kebutuhan lainnya,” katanya.

 

Sebagai manusia Yohanes pernah mengalami lika liku hidup yang dirasa cukup berat, yaitu ketika dirinya sakit, ibunya sakit dan ayahnya sakit. Dengan istri sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga rasanya kebutuhan saat itu tidak akan terpenuhi jika ia dan keluarga tidak ditolong dengan menjadi peserta JKN-KIS.

 

“Puji Tuhan, keluarga saya bisa tertolong dengan berobat menggunakan JKN-KIS. Anak saya pun bisa melanjutkan kuliah hingga akhirnya sekarang bisa lulus dan sudah bekerja,” kata Yohanes.

 

Yohanes mengatakan baginya terdaftar sebagai peserta kelas 3, tidak masalah yang penting jaminan kesehatannya terlindungi. Yohanes tidak bisa membayangkan jika ia tidak memiliki JKN-KIS betapa besar biaya pengobatan yang harus ditanggung.  Menurutnya, sebagai orang desa, Yohanes telah merasakan pahit getirnya mencari uang. Dengan terdaftar menjadi peserta JKN-KIS, Yohanes merasa telah banyak dibantu.

 

“Kalau ada orang yang tanya kenapa ikut jadi peserta JKN-KIS, akan saya jawab dengan lantang seharusnya anda bersyukur. Ikut jadi peserta JKN-KIS itu untungnya banyak sekali. Soalnya saya sendiri sudah merasakan manfaatnya. Makanya saya sering menginfokan ke orang-orang agar jangan malas mengurus kepesertaan JKN-KIS. Itu dilakukan untuk kebaikan diri kita,” ujar Yohanes.(ma/rt)

 


File :