Berkat JKN-KIS, Operasi Pemasangan Ring Jantung Teratasi

Penulis : Humas Dibaca : 338 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 21 Nov 2020 07:12:00

Manokwari, Jamkesnews – Hingga kini, penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di seluruh dunia. Beragam perawatan medis telah dilakukan untuk meminimalkan risiko kematian akibat penyakit ini, termasuk pemasangan ring jantung. Sayangnya, biaya atau harga pasang ring jantung tidak bisa dibilang murah, karena hal tersebut masih ada masyarakat yang tidak berani memasang ring jantung lantaran terkendala biaya.

Abdul Wahab Adam (44), peserta JKN-KIS dari segmen Pekerja Penerimah Upah (PPU) TNI mengungkapkan bahwa ia merasa bersyukur sudah terdaftar menjadi peserta JKN-KIS. Menurut Abdul, dirinya sangat terbantu dengan adanya Program JKN-KIS. Sudah beberapa kali dirinya memanfaatkan kepesertaannya untuk berobat dan yang terakhir ketika dirinya terkena serangan jantung dan mengharuskan menjalani operasi pemasangan ring jantung pada Juni 2020.

“Saat menjalani operasi pemasangan ring jantung kemarin semua biayanya sudah dijamin oleh program ini. Bulan Juni lalu saya dirujuk di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto di Jakarta. Kalau tidak ada  Program JKN-KIS, saya pasti sudah merogoh kocek ratusan juta rupiah selama dirawat di sana sekitar satu minggu,” ceritanya kepada tim Jamkesnews, Jumat (13/11).

Abdul juga mengaku selama dirinya berobat menggunakan kartu JKN-KIS yang dimilikinya, dirinya tidak pernah mendapatkan diskriminasi pelayanan di fasilitas kesehatan. Mulai dari saat dirinya berobat di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) sampai dengan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL).

Petugasnya melayani dengan ramah dan tanggap kepada saya, mulai dari di FKTP sampai dengan di FKRTL untuk memasang ring jantung. Saya selalu mendapatkan pelayanan yang bagus meskipun hanya mengandal kartu JKN-KIS untuk menjamin biaya perawatan saya,” ujarnya.

Abdul merasa gaji yang dipotong tidak sebanding dengan manfaat yang diperolehnya dan kalau dihitung total gaji yang sudah dipotong jumlahnya belum cukup dengan biaya selama dirinya menjalani pengobatan sampai saat ini.

“Jumlah gaji yang sudah dipotong tidak sebanding dengan manfaat yang saya dapatkan sampai saat ini. Ditambah lagi sekarang saya sudah menjadi peserta Program Rujuk Balik (PRB) dan harus kontrol setiap 6 bulan sekali,” tuturnya.

(TR/em)


File :