Cerita Dilah, Divonis Mengidap Fibroadenoma Diusia 23 Tahun

Penulis : Humas Dibaca : 214 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 15 Feb 2021 00:00:00

 

Jember, Jamkesnews – Di usia muda yang baru menginjak 23 tahun, Nur Fadilah harus menguatkan diri karena divonis menderita Fibroadenoma pada Oktober 2020 lalu. Fibroadenoma adalah sejenis tumor jinak yang bersarang di  payudara yang banyak dialami oleh wanita mudah berusia di bawah 30 tahun. Bermula dari cek  Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) yang rutin dia lakukan, ternyata ia menemukan benjolan yang tidak normal di salah satu bagian tubuhnya.

 

“Sering liat sosialisasi ibu-ibu kader posyandu tentang SADARI. Ternyata ada benjolan kecil seruas jari, tapi tidak sakit jika ditekan. Saya periksa ke puskesmas terdekat, disarankan untuk dirujuk rumah sakit. Di rumah sakit ke dokter spesialis, diambil sample-nya untuk di cek laboratorium. Ternyata itu tumor jinak,” cerita gadis yang akrab disapa Dilah.

 

Setelah proses pemeriksaan laboratorium, dokter yang menanganinya menyarankan untuk dilakukan pengangkatan tumor tersebut. Tanpa berpikir panjang, Dilah dan keluarga setuju untuk dilakukan tindakan operasi. Dilah mengaku sempat takut, diusianya yang masih mudah dan belum berumah tangga sudah menginap penyakit ini.

 

“Saat itu saya hanya berpikir, mumpung masih jinak jadi segera saja ikuti saran dokter. Ibu juga khawatir kalau dibiarkan justru semakin parah,” ujar gadis kelahiran 20 September 1997 ini.

 

Dilah menceritakan tindakan pengangkatan tumor dilakukan tepat pada tanggal 21 Desember 2021 lalu. Sempat dirawat selama 2 hari di rumah sakit, dan menjalani perawatan pasca operasi dilalui Dilah dengan penuh kesabaran dan telaten. Dirinya dan keluarga fokus pada pengobatan dan tidak terlalu khawatir soal biaya. Hal ini lantaran, Dilah dan keluarga telah mengantongi kartu kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

 

“Bersyukurnya sudah ada kartu BPJS (Kesehatan), dapat dari pemerintah sudah 1 tahun lalu. Alhamdulillah mulai dari periksa di puskesmas sampai di rumah sakit tindakan operasi, perawatan dan obat-obatan dijamin oleh BPJS, tidak ada tambahan biaya lain,” ungkap Dilah yang hanya bisa mengenyam pendidikan di tingkat SMP.

 

Dilah yang merupakan salah satu yang beruntung telah terdaftar sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBN mendapatkan akses pelayanan kesehatan di kelas 3. Mendapatkan pelayanan yang baik dan tidak ada perbedaan perlakuan membuat Dilah semakin bersyukur mendapatkan manfaat dari kepesertaan yang dikantonginya.

 

“Terimakasih, pemerintah sudah sangat membantu melalui kartu BPJS ini. Saya dan keluarga yang hidup di desa dengan keadaan ekonomi yang pas-pas an bisa mendapat pelayanan pengobatan dengan gratis. Sempat bertanya, kalau tidak pakai BPJS harus menyiapkan biaya sekitar 5-10 juta untuk operasi saja. Jadi nambah beban orang tua lagi. Beruntung semua perawatan dibiayai oleh BPJS.  Semoga program ini terus ada dan memberikan banyak manfaat ke masyarakat yang lain,” pesan Dilah. (ar/al)


File :