Dokter Umum FKTP Klaten Tingkatkan Kompetensi Pengelolaan Pasien Diabetes Melitus

Penulis : Humas Dibaca : 343 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 14 Jun 2021 06:38:01

Klaten, Jamkesnews – BPJS Kesehatan Cabang Boyolali berupaya meningkatkan mutu kualitas layanan kesehatan lewat kegiatan Mentoring Spesialis Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) di Kabupaten Klaten, Rabu (09/06). Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua Ikatan Dokter Indonesia Cabang Klaten Husen Prabowo, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Boyolali, Juliansyah, serta seluruh dokter umum di Puskesmas, klinik, dan dokter praktik perorangan di FKTP Kabupaten Klaten. 

Juliansyah mengungkapkan kegiatan ini adalah salah satu upaya dalam meningkatkan kompetensi dokter umum di FKTP sebagai garda terdepan dalam pengelolaan penyakit kronis khususnya diabetes mellitus (DM) agar tidak terjadi komplikasi. Dengan terkelolanya penyakit kronis secara optimal, maka pasien dan keluarga pasien tentunya juga dapat lebih sehat dan bahagia dalam menjalani kehidupan sehari-hari tanpa harus mengkhawatirnya penyakitnya akan kambuh tidak terkontrol.

Ia menambahkan bahwa peningkatan kualitas mutu layanan kesehatan ini merupakan tanggung jawab bersama, baik dari pihak fasilitas kesehatan maupun dari BPJS Kesehatan sebagai penyelenggara jaminan sosial.

“Peningkatan mutu kualitas layanan tidak hanya pada sarana prasarana fasilitas kesehatan, namun juga pada peningkatan kompetensi dari tenaga kesehatan. Kami berharap dengan adanya mentoring spesialis ini, FKTP dapat lebih optimal dalam melayani pasien DM,” ujar Juliansyah.

Materi yang disampaikan pada mentoring spesialis ini yaitu Penatalaksanaan DM di FKTP Fokus Terapi Farmakologi oleh salah satu anggota kelompok studi medik RSUD Bagas Waras, Nuril Ahmadi. Ia mengatakan hampir 70% pasien DM di Indonesia tidak mencapai target terapi DM. Akibatnya yaitu banyak DM tidak terkontrol sehingga mengakibatkan komplikasi yang memakan biaya besar untuk pengobatannya baik bagi pasien maupun asuransi jaminan sosial.

Nuril mengatakan, ketika pasien didiagnosa menderita DM maka sangat dianjurkan pasien untuk mengubah pola gaya hidup dan rutin berolahraga. Hal ini dilakukan agar DM tidak berubah menjadi DM dengan komplikasi. DM dengan komplikasi memakan biaya yang lebih tinggi sekitar 2 sampai 4 kali lebih tinggi dari penyakit DM tanpa komplikasi tergantung dari tingkat komplikasi yang diderita.

“Farmakoterapi penyakit DM dilakukan dengan obat-obatan oral dan suntikan. Dokter di FKTP harus memahami jeni-jenis terapi ini baik manfaat yang diberikan maupun efek samping dari terapi tersebut karena kondisi kesehatan setiap pasien DM berbeda-beda sehingga membutuhkan terapi yang berbeda pula,” jelas Nuril.

Dokter spesialis bedah Rumah Sakit PKU Muhammadyah Klaten, Wicaksono Probowoso juga turut menyampaikan informasi pengetahuan mengenai ulkus diabetikum. Ulkus DM merupakan salah satu akibat dari komplikasi DM. Ulkus adalah luka terbuka pada kulit yang disertai kematian atau kerusakan jaringan dengan atau tanpa infeksi.

“Selain salah satu akibat dari komplikasi DM, ulkus DM merupakan penyebab kematian ketujuh tertinggi di dunia. Selain itu lebih dari 15% dari pasien DM dapat muncul ulkus. Dari 15% pasien DM dengan ulkus, hampir 15%-nya memerlukan amputansi. Bahkan ulkus DM merupakan penyebab kematian pasien DM sebesar 30%,” jelas Wicaksono.

Oleh sebab itu pengelolaan penyakit kronis seperti DM menjadi penting. Dokter di FKTP harus aktif memberikan sosialisasi dan edukasi baik kepada pasien DM maupun keluarga pasien DM agar tidak terjadi komplikasi apalagi mengakibatkan munculnya ulkus DM. (ma/is)


File :